Setelah basa-basi kutawarkan mandi dulu
agar hilang capeknya. Selesai mandi, ia membereskan kembali tasnya.
Sepintas ia melihat dinding di sekeliling kamarku, yang penuh dengan
gambar telanjang. Dia tersenyum dan berkomentar.Bagaimana kalau ada
anak-anak yang masuk ke kamar ini, aku jawab bahwa kamar ini khusus
untuk orang yang sudah dewasa.Kalau begitu ada gambar yang lebih porno
lagi dong..Ada, mau lihat?Sebelum menjawab, kuambilkan beberapa foto
porno kegemaranku yang kusimpan di dalam lemari pakaianku.Mau lihat,
nggak apa-apa kok untuk pelajaran aja.
Dengan ragu-ragu ia terima juga
foto-foto kategori XXX, dan dilihatnya dengan cermat, entah apa yang
berkecamuk di dalam hatinya aku tidak tahu, tapi terlihat ekspresinya
begitu tenang sekali. Entah karena sudah terbiasa, atau karena begitu
pandainya ia menyembunyikan perasaannya.
Gimana, komentar dong.Ada filmnya
nggak?Nggak ada, tapi kalau yang asli justru ada, kataku sambil
bergurau.Yang asli mana, coba aku terkejut mendengar pernyataannya,
sampai-sampai aku hampir tidak bisa menjawabnya.Eh, ada tapi itu anu..
aku jadi gugup, sambil kuarahkan jariku ke arah kemaluanku.Tapi apa
Mas..Tapi harus ada gantinya, barter gitulah.Tapi kalau yang ini aku
nggak punya, sambil ujung jarinya menunjukkan kemaluan pada gambar yang
ia pegang.Yang semacam juga nggak pa-paYang bener nih, sambil tangannya
bersiap-siap mau memegang daerah terlarangku yang masih terbungkus
celana.He-eh bener, kujawab saja sekenanya, aku kira hanya gertakan saja
dia mau memegang kemaluanku. Betapa kagetku ternyata tangannya
benar-benar memegang kemaluanku dari luar celana.
Aku tidak bisa bilang apa-apa, selain
menikmatinya dengan perasaan senang. Secara refleks kuraih kepalanya dan
kudekap sambil dalam hati berkecamuk memikirkan peristiwa ini. Kalau
pacar atau orang lain aku tidak bingung, tetapi ini adalah saudara
sepupuku yang sewaktu kecil sering bermain bersama. Tetapi karena ia
terus mengusap kemaluanku dari luar celana, aku buang pikiran itu
jauh-jauh keraguanku. Keputusanku adalah menikmati saja peristiwa ini.
Kucium keningnya, pipinya dan bibirnya.
Sambil kugerayangi punggungnya, lehernya, pinggangnya, pantatnya dan
terakhir buah dadanya. Sebagai penjajakan saja apa reaksinya. Ternyata
ia diam saja, bahkan semakin keras memegang selangkanganku. Terus
kuciumi bibirnya sampai nafasnya memburu. Kubuka kausnya, dan aku
melihat kulit tubuh yang tidak pernah terkena matahari itu demikian
menimbulkan birahiku. Kubuka BH-nya dan tambah kagum aku atas
keindahannya. Kuelus buah dadanya yang kenyal dan sekali-kali kupencet
putingnya yang membuat nafasnya makin memburu. Begitu aku berusaha
mencium buah dadanya, ia mundur sambil menarik tanganku ke arah tempat
tidur.
Dalam keadaan telentang tampaknya ia
sudah siap menerima tindakanku berikutnya, buah dadanya yang menantang
bergelantungan. Sebelum aku mendekatkan diri, aku melepaskan pakaianku
hingga tuntas, sehingga batang kejantananku yang sudah membesar
tergantung-gantung mengikuti gerak dan langkahku. Bersamaan dengan itu
ia melepaskan juga pembungkus tubuhnya yang masih tersisa, sehingga kami
benar-benar sudah telanjang bulat. Tubuhnya benar-benar mulus, tidak
ada cacat, payudaranya sedang, masih kencang, puting susunya coklat tua,
mendekati hitam, perutnya ramping, lipatan kecil di perutnya
menunjukkan belum begitu banyak lemak di situ, pinggulnya sedang, bulu
kemaluannya tipis, sehingga bibir kemaluannya yang mengatup dengan rapi
terlihat begitu indahnya.
Ia raih batang kemaluanku, dan aku
mendekatkan diri sehingga mudah baginya untuk mengulum dan menjilati
batang kejantananku. Sementara tanganku tanpa kusadari sudah meraih
bibir kemaluannya yang sudah basah. Kuelus-elus bibir kemaluannya sambil
kucari dan sesekali kusentuh klitorisnya. Dan kumasukkan jari tengahnya
menggapai dasar kemaluannya. Jilat kepalanya, aku berbisik kepadanya.
Dengan sigapnya ia segera tahu maksudku. Ia segera mulai menjilati
kepala kemaluanku yang semakin membesar saja dan mengkilap oleh jilatan.
Rasa geli dan nikmat bercampur jadi satu. Birahiku benar-benar sudah
sampai di ujung, ingin segera mengikuti naluriku untuk segera memasukkan
ke dalam liang senggamanya. Tetapi nanti dulu, kuciumi dulu tubuh Eva,
dari mulai bibir, telinga, leher, buah dada, perut dan liang
kewanitaannya. Kujilat-jilat klitorisnya yang membuat dia menggelinjang
ke kanan kiri tidak karuan, pantatnya dia angkat tinggi-tinggi sehingga
aku mempunyai ruang yang baik untuk melakukan kegiatanku menjilati
klitorisnya yang sekilas kulihat semakin bengkak dan merah.
Sampai suatu saat tubuhnya makin
menegang sambil berteriak menyebutkan sesuatu yang tidak jelas,
bersamaan dengan itu membanjirlah cairan bening dari liang
kewanitaannya. Aku sampai Mas, aku sampai Mas begitulah ucapan yang
kutangkap dengan nafas terengah-engah.
Kemudian kuambil posisi untuk
menyetubuhinya, kemaluanku yang sudah tegang dan membesar di ujungnya
kusiapkan di depan pintu gerbang kewanitaannya. Dengan bimbingan
tangannya, kumasukkan kemaluanku sampai habis tertelan oleh liang
kenikmatannya. Kembali ia mengerang, sambil memelukku dengan keras.
Sejenak kudiamkan saja batang kejantananku di dalam. Kurasakan pijitan
liang kewanitaannya sangat membuatku semakin nikmat. Batang kejantananku
masih kudiamkan terendam di situ.
Eva mulai menggerak-gerakkan pinggulnya,
sampai kusentuh dasar kemaluannya yang terasa seperti benjolan yang
semakin keras menyentuh-nyentuh kepala kemaluanku. Semakin nikmat
rasanya, sehingga aku sendiri tidak tahan lagi dengan gesekan dan
pijitan dari liang senggamanya sehingga otot-otot pada tubuhku menegang
dan bersamaan dengan itu, tanpa kusadari keluar maniku membasahi dan
menghangatkan dasar kemaluannya. Kurasakan Eva lagi-lagi mencapai
orgasme. Kali ini lebih panjang erangannya, semakin kuat ia memelukku
dan gerakan tubuhnya semakin tidak teratur. Kutancapkan dalam-dalam
kemaluanku, hingga kami saling berpelukan. Beberapa detik kemudian kami
terkulai. Aku masih belum ingin mencabut kemaluanku yang bersarang
dengan damai di liang sorganya. Kubalik tubuhku sehingga ia menjadi
menindihku. Eva benar-benar puas dan sangat-sangat kelelahan. Beberapa
menit kemudian ia sudah tertidur dengan pulas. Kemaluanku yang sudah
melemah masih berada di dalam liang kewanitaannya.
Aku pun tertidur, dengan perasaan lega.
Tengah malam kami bangun dan bermain lagi sampai puas. Tiap bangun
bermain lagi. Sampai akhirnya kami benar-benar tertidur hingga jam 10
pagi. Karena di rumah tempat kost-ku cukup tesedia makanan instan.
Sehingga hari itu kami bisa melakukan dengan sepuas-puasnya, dan kami
merasa tidak perlu lagi memakai baju di dalam rumah. Memasak air,
menyapu mencuci piring selalu diselingi dengan adegan percintaan. Sampai
sore hari ia berpamitan kembali ke Surabaya melanjutkan kuliahnya.
Sejak saat itu ia sering ke kotaku. Sampai ia mempunyai pacar dan
menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar