Cerita Dewasa : Di suatu siang saat saya naik taksi ke arah Senen dari Megaria
tiba-tiba di radio terdengar Jakarta rusuh. Sopir panik, akhirnya
setelah di pertigaan Salemba tidak jadi ke kiri langsung ke arah
perempatan Matraman. Tanpa pikir lagi taksi dibelokkan ke arah Pramuka.
Untungnya saat itu terdengar di radio bahwa perempatan Rawamangun (by
pass) terjadi pembakaran. Akhirnya taksi dibelokkan ke satu hotel besar
di Jl. Pramuka (hotel S). Sesampai di sana sopir minta maaf dan lapor
satpam, saya diturunkan di situ, satpam marah. Namun seseorang
menghampiri, orangnya gagah, necis, berjas, hitam tinggi besar,
educated , sopan. Dia bilang sesuatu ke satpam akhirnya satpam
membolehkan saya sementara waktu beristirahat sambil memantau keadaan
lalu lintas.
Saya diberikan tempat/kamar di lantai 10, bersih. Ngeri juga, mana
sendirian lagi. Tapi mendingan daripada di luar. Tak terasa sudah sore,
ada yang mengetuk, pelayan menanyakan mau makan apa? Saya bilang tidak
usah, mau pulang saja. "Di luar masih rusuh Bu, tuan bilang tinggal aja
dulu di sini, sampai keadaan aman," sahut pelayan. Dalam hati, tuan
siapa? Saya diberi handuk dan peralatan mandi. Ragu juga mau mandi,
takut ada yang mengintip. Ah ada akal, saya matikan lampu kamar mandi
terus mandi buru-buru yang penting bersih plus gosok gigi. Tak lama
hari mulai gelap, makanan datang disertai pelayan dan lelaki hitam yang
simpatik itu. Dia tersenyum mensilakan saya mencicipi hidangan
bersamanya, pelayan disuruh pergi. Karena memang sudah lapar saya
makan, sambil sesekali menjawab beberapa pertanyaannya. Mukanya berubah
saat saya menjawab bahwa sudah bersuami dan sedang ditinggal tugas
hampir 4 bulan. Selesai makan kami tetap ngobrol kesana kemari, sampai
pelayan datang lagi membersihkan meja, dan pergi lagi dengan
meninggalkan kami berdua. Saya ingin cepat-cepat keluar dan tiba di
rumah.
Seperti mengetahui jalan pikiran saya dia menghampiri dan mencoba
menenangkan, "Tenang saja dulu di sini, kalau perlu nginap semalam,
lebih aman." Tangannya menggenggam jemari saya. Besar sekali dan
terkesan kuat/kekar.
Dia bilang, "Panggil saya Marvin saja!"
"Bolehkah saya panggil Linda saja? Biar akrab?" tanyanya.
Terpaksa saya mengangguk. Merinding tubuh saya disentuh lelaki lain
selain suami. Dia mengelus-elus lembut tangan saya. Mendesir seluruh
peredaran darah saya. Antara ingin menepiskan dan keterpesonaan pada
penampilan fisiknya yang sangat seksi menurut penilaian saya. Ah, tapi
sepertinya dia orangnya baik juga, mungkin dia turut prihatin atas
keadaan saya. Dilihat dari pakaiannya dan bau parfumnya jelas pria
asing ini dari kalangan berduit. Tampangnya perpaduan orang India,
Arab, Afrika, atau Negro Amerika. Rambutnya agak plontos. Giginya
putih. Tingginya antara 185 sampai 190 cm. Lebih mirip bodyguard.
Tiba-tiba saya merasakan agak pening, tanpa sadar saya memijit-mijit kening sendiri. "Are you
Ok?" katanya, sesekali memang dia bicara Inggris, meskipun telah fasih
bahasa Indonesia (sudah 10 tahun katanya di Jakarta). Saya tak bisa
menolak saat, dia membantu memijit-mijit kening saya, lumayan juga agak
mendingan. Saya disuruh istirahat dulu dan dibimbingnya ke kamar tidur.
Spreinya warna biru muda polos, tembok kamar kuning muda, sangat
kontras. "Tiduran dulu aja," katanya. Saya takut. Tapi demi menyadari
bahwa itu percuma, saya hanya berharap semoga tak terjadi apa-apa. Saya
berbaring, sementara dia duduk di pinggir tempat tidur. Sangat riskan
karena sewaktu-waktu dia dapat menyergap dengan mudah.
"Lin, telungkup aja!" katanya. Yach, untunglah agak mendingan, begini.
"Biar lebih enakan, saya pijitin punggung kamu yach," katanya.
"Tidak usah Mister, eh Marvin..." kata saya.
Tapi dia telah mulai memijit tengkuk saya, bahu, oouhh enak sekali,
pintar juga dia. Punggung saya mendapat giliran. Saking enaknya tak
terasa dia juga memijit bokong saya, paha, betis sampai mata kaki dan
telapak kaki. Segar rasanya tubuh ini.
Dia minta saya buka baju (kurang ajar orang ini!). Dia bilang mau dikasih lotion biar tidur enak dan tambah segar.
"Marvin, saya ini orang baik-baik dan bersuami, kamu tidak akan macam-macam kan?" tanya saya.
"Tidak dong Lin," katanya.
Dia membantu membuka baju saya, dan eehh celana saya dijambretnya
sekalian. Saya tinggal ber-BH dan CD. Sementara dia masih berjas.
Terakhir baru dia melepas jasnya, tapi tetap berkemeja dan celana
panjang. Dia melumuri bagian belakang tubuh saya dengan lotion yang
enak baunya. Saya tambah keenakan dipijit begitu. Hilang rasanya semua
stres. Saya diminta berbalik/baring. Nach, ini masalahnya. Dia senyum
seperti cuek, memijit kening dan kepala, leher, dada (ough tidak
menyangka termasuk kedua payudara saya (yang masih ber-BH)
diputarputarnya. Saya kaget, tapi belum sempat protes dia telah pindah
ke perut dan pinggang, seolah itulah prosedurnya. Kembali saya terdiam,
dan sekarang sampai ke paha, dia juga memijit-mijit CD saya.
"Stop Marvin..!"
Tapi dia diam, terus pindah ke kaki.
"You are so beautiful Linda," katanya sambil menduduki betis saya.
"Oh God, help me please..." dalam hati.
Tapi dia tidak memaksa, lembut, sopan, dia buka kemeja dan kaos dalam.
Wow, sangat menggiurkan, kokoh, atletis, otot-ototnya terlihat, bulu
dadanya itu, seksi sekali. Kelihatannya dia orang yang peduli dengan
keindahan tubuhnya. Mirip binaragawan. Ah, saya tersadar saya bersuami.
"Marvin jangan...!" teriak saya.
"Apa Babe..? katanya sambil kedua tangannya menggenggam kedua tangan saya.
Oh, dia mulai mengecup mata saya (saya dipaksa), pipi saya, bibir saya,
tapi saya tutup mulut saya rapat-rapat, saya tersinggung, saya tak rela
lidahnya menjilat-jilat lidah saya. Agak kesal dia turun ke leher, dan
tampaknya siap mencupang.
"Ohhh jangan Marvin, nanti kelihatan orang, pleasee..." Dia berhenti.
"Kalau gitu yang tidak terlihat ini dong..." katanya.
Dia membuka BH saya, dan mulai menghisap puting kiri saya. "Ooughh..."
mendesir sekujur tubuh saya sampai ke kemaluan saya. Tangan saya
melemas tak berdaya, apalagi jemari kirinya yang kokoh memilin-milin
puting kanan, tangan kanannya meremas-remas pantat saya.
Mulutnya kemudian saling berpindah dari puting kiri ke kanan dan
sebaliknya. "Payudaramu indah sekali Lin, I like it, not too big. Yes,
it's really an asian taste," katanya. Tak tahan saya menerima
permainannya, sangat lain, beda, pintar sekali. Payudara saya langsung
mengeras. Kedua puting saya kontan meruncing, tegak. Kombinasi antara
lembut dan terkadang agak kasar ini, belum pernah saya rasakan
sebelumnya. Saya sering dihisap begini oleh suami tapi tak pernah
senikmat ini. Apakah karena sudah terlalu lama menganggur?
Terbengkalai? Gersang? Perlu siraman? atau birahi saya yang memang
terlampau besar? Tak terasa tahu-tahu dia telah meninggalkan beberapa
cap merah di sekeliling kedua payudara saya yang telah kencang.
Jemarinya mulai merasuk ke belahan kemaluan saya, tangan satunya
meremas-remas pantat saya. Ogh! dia menggesek -gesek liang kemaluan
saya dengan jemarinya. Ooouuww, serangan bersamaan di lubang kemaluan
dan hisapan puting menyebabkan saya orgasme, yang pertama setelah 4
bulan lebih libur panjang. Tanpa sadar mulut saya terbuka menahan
nikmat. Dasar dia canggih, tahu kesempatan, mulutnya menyumpal mulut
saya, dan lidahnya saat ini berkesempatan menari-nari mencari lidah
saya. Saat ini tak sanggup saya menolaknya. Oouuh, enak sekali.
Saya tanpa sadar membalas jilatannya. Sementara kemaluan saya membanjir
dengan CD yang telah terlepas entah kapan. Jari tengahnya mulai
menusuk-nusuk perlahan ke dalam lubang kemaluan saya. Ouuugh, semakin
dalam, dalam sekali, belum pernah saya ditusuk sedalam ini, oouuugh
nikmatnya. Jarinya saja panjang begini apalagi "burung"-nya. Sejenak
saya tersentak,
"Marvin, cukup... saya tidak mau kamu melakukan itu," kata saya.
"Itu apa?" katanya.
"Itumu jangan dimasukkan, Marvin."
"Why?" tanyanya.
"Your thing is too big," jawab saya.
"Ahh, ini cuma jari," katanya lagi.
"Janji ya.. Marvin, dan tolong pintunya dikunci dulu nanti ada yang masuk."
Dia malah menyahut, "Tidak ada yang berani ganggu saya, kamu aman sama saya," kata Marvin meyakinkan.
Saya agak tenang, untuk selanjutnya kembali menikmati permainannya yang
sangat spektakuler. Saya lupa bahwa telah bersuami. Marvin mulai
membuka celana panjangnya. Belum sempat protes, dia telah menyergap
mulut saya lagi, yang sekarang sudah hilang kekuatan untuk
menghindarnya. Saya jelas saat ini telah telanjang bulat, dia tinggal
ber-CD. Mulut dia kembali menghisap puting saya terus ke pusar, dan
serta merta dia menjilati lubang kemaluan saya dengan kecepatan tinggi.
Wooww, nikmat. Seolah dia menemukan permainan baru tangan dan mulutnya
berkecimpung di sana. Saya hanya bisa mendesah, mendesis, melenguh.
"Uuueeehhhggh... Oh! Oh! Oh! Oouughh..." Selagi asyik begitu dia langsung stop! dan mendekap
saya, seraya berbisik di telinga,
"Enak tidak Babe," saya mengangguk.
"Mau lagi?" katanya. Saya mengangguk.
"Kalau mau lebih enak, dimasukin ya?"
"I'm afraid Martin, please... help me. Ooogghh..."
Saya sudah tak kuasa menahan dorongan yang sangat aneh dari dalam tubuh ini. Belum pernah senelangsa ini, benar -benar pasrah.
"Ooohhh, Marvin..."
Sepertinya dia ingin menyiksa saya dalam kehausan saya.
"Punya suamimu berapa panjangnya?" tanyanya.
"Lima belas," jawab saya.
"Wow so panjang, 15 inch?" tanyanya lagi.
"No, Marvin.. 15 cm," jawab saya.
"No problem, punya saya cuma selisih sedikit, nanti kalau kepanjangan tidak usah dimasukin
semuanya yach..?"
"And supaya tidak kaget you kenalan dulu, pegang dulu, kulum dulu, Ok? Don't worry Babe," hiburnya.
Dia kembali melakukan serangan dengan menjilati kemaluan saya.
"Ooouughh," kemudian menghisap puting saya. "Ouuuggh," sambil tangannya
melepas CD-nya. Lidah kami saling mencari saling membutuhkan, dan
tampaknya ada sesuatu yang lembut agak keras, besar, panjang menempel
di atas paha saya.
"Honey, saya tahu you sudah tidak tahan, dan seandainya saya pergi,
terus ada lelaki lain masuk mau ngegantiin saya, you pasti mau juga
'kan?"
"No.. Marvin, please entot saya Marvin..." pinta saya.
Meskipun dalam hati membenarkan apa yang dikatakannya karena sudah
terlampau berat dorongan ini, pingin segera dicoblos pakai apa saja,
punya siapa saja. Ah, saya dipaksa duduk melihat punyanya. Woow, besar
sekali dan panjang. Hitam sekali, agak ungu, biru, kokoh, mana mungkin
bisa masuk. Saya dipaksa untuk memegangnya, saking besarnya tidak cukup
satu tangan, harus dua. Diameternya lebih panjang dari pergelangan
tangan saya. "Gede mana sama punya suamimu?" tanyanya.
Saya diam karena ngeri. Panjangnya hampir 2 kali barang suami saya.
"Ayo dikulum dulu!" Saat itu entah kenapa mungkin karena saya sedang
terangsang, saya turuti saja apa maunya. Mulut saya hanya mampu
menerima kepalanya saja, itupun harus membukanya lebar-lebar.
"Sudah ah.." kata saya.
"Kamu siap ya.." katanya.
"Sebentar aja ya!" kata saya lagi.
Marvin sangat memperhitungkan kondisi saya, dia tidak terburu-buru,
dengan mesra dia mencumbui saya lagi, menghisap puting, kemaluan,
meremas bokong, dan kombinasi lainnya termasuk menjilati lidah saya
bolak balik. Tibalah saatnya, kedua paha saya direnggangkan
lebar-lebar. Saat itu saya merasakan nikmat tiada terkira yang
diakibatkan oleh serangannya yang seolah terukur dapat mengantar saya
ke puncak birahi. Sesaat saya lupa kalau saya bersuami, yang saya ingat
cuma Marvin dan barangnya yang besar panjang. Sudah mendongak ke atas,
lebih mirip terompet tahun baru. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin
cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos barang yang lebih besar,
lebih panjang, lebih hitam. "Ooouugghhh," tak sabar saya menunggunya.
Marvin memegangi kedua paha saya yang telah terbuka lebar -lebar, dia
masih menjilati terus kemaluan saya yang entah sudah berapa kali
orgasme.
"Babe, biar nikmatnya selangit kedua jemarimu coba memilin-milin kedua putingmu bersamaan sambil saya melakukan ini," katanya.
Dan, oh ternyata benar-benar enak. Mengapa suami saya tak pernah memberitahu saya.
"Cepat.. Marvin.. please... masukkan..."
Kepala burungnya yang besar hitam sudah menempel pelan di bibir kemaluan saya.
"Do you need this big black cock, Linda?"
"Ya, masukkan sedalam -dalamnya, saya tak tahan lagi Marvin, please... entot saya...!" kata saya.
"Wait.. wait Lin, pintunya 'kan belum dikunci?" katanya.
"Biarin..." kata saya benar -benar sudah melayang tak tahan.
"Nanti orang lain atau suamimu lihat?" katanya.
"Biarin," kata saya lagi.
Dan... "Bleessh" kepalanya susah payah sudah masuk.
"Wooww sakit.. sakkiiittt... Marvin..." erang saya.
"Sebentar ya..?" katanya terus menggenjot pelan.
"Ooougghh stop.. Marvin!" saya benar -benar merasa kesakitan tetapi campur nikmat.
Saya heran, kok seperti masih perawan saja, padahal sudah diterobos
Misoa, cuma memang barangnya kecil. Marvin sebenarnya tinggal napak
tilas saja. Ternyata harus membuka jalan baru di sampingnya dan di
kedalamannya. "Bagaimana sayang... masih sakit?" tanyanya. Saya terdiam
sebab kadang sakit kadang nikmat. Dia mendorong perlahan sampai kira
-kira seperlima panjangnya. Maju mundur, oh mulai agak nikmat.
"Babe, lubangmu ternyata gede juga... cuma selama ini 'idle' aja..."
"Iya... Ooouuww sekarang 'full capacity' Marvin.. Oh..."
Marvin terus memperdalam jelajahnya dengan cara menarik sekitar 2-3 cm
dan memasukkan kembali 4-5 cm, sampai kira-kira mencapai 50 persen
panjangnya. Rasanya kalau suami saya sudah full segini. Marvin terus
melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat,
sehingga, "Oougghh, Oh.. Oh.. Oh. Oh.." Dia mulai mengisi ruang baru
yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya, kokoh, kuat,
bertenaga, jantan! Fantastis hampir semua miliknya yang panjang itu
tertelan, tinggal sedikit. Dan di sinilah keahlian Marvin.
Dia kembali menarik sebagian barangnya, dan mempermainkan kocokan
dengan cepat tambah cepat antara kedalaman 30%-60% kira-kira 5 sampai 6
kocokan diakhiri tusukan lembut seluruhnya (100%) terus diulang
berkali-kali. Sehingga menghasilkan irama desahan dari mulut saya, "Oh!
Oh! Oh! Oh! Oh! Ooouugghhh... Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oouugffhh..." Mana
tahan saya orgasme lagi. Marvin sangat memegang kendali, pada saat dia
menancapkan seluruh rudalnya, dia diamkan sesaat digoyang-goyang
pantatnya, dan berbisik, "Lan.. lihat tuh di kaca..." Oh, tubuh besar
hitam kekar sedang menindih tubuh kecil putih mengkilat karena lotion.
"Siapa itu Lin?" katanya, saya diam dia mengocok.
"Siapa Lin? kalau kamu diam saya stop nih," kata dia.
Terpaksa saya jawab, "Marvin!"
"Sama siapa ?" tanyanya.
"Saya.. Linh... daaah.. ah.."
"Who is Marvin?"
Ough, belum dijawab dia mengocok lagi, nikmat sekali permainan ini
selama 3 bulan lamanya bulan madu paling saya mengalami orgasme hanya 3
kali. Ini belum semalam saja sudah lebih 5 kali.
"Bandingkan saya dengan suamimu, Ok? Kalau tidak saya berhenti," katanya.
"Oh.. no... jangan berhenti Marvin, terusshhkan lebih kerass lebih dalammhh."
"Tapi jawab dong!" bentaknya.
"Iyyaahh... Marvin," sambil dia menghantam -hantamkan rudalnya sepenuh
tenaga, saya merasakan kedua bijinya menyentuh-nyentuh kemaluan luar
saya menambah sensasi kenikmatan.
Tak tahan dengan kenikmatan yang amat sangat, saya mencoba menyongsong
setiap hantaman rudalnya dengan cara mengangkat pinggul/pantat setinggi
mungkin. Pada saat dia menekan, menusuk saya songsong dengan mengangkat
pinggul, sehingga hantamannya yang keras semakin keras cepat, dan
nikmat. Tubuhnya saya terguncang-guncang naik turun seirama hentakan
perkasanya. Sekilas terlihat dari cermin, latar belakang tembok kuning
muda, sprei biru muda, tergolek pasrah wanita putih mulus mungil
ditindih seorang pria hitam besar dengan penuh nafsu. Tak ada pancaran
ketakutan sedikitpun dari wajah si wanita, selain pancaran wajah penuh
birahi.
Sambil menikmati kocokannya, saya berusaha menjawab pertanyaannya.
"Marvin lebih kuat... Oh!"
Dia menyeringai dan mempercepat kocokannya.
"Marvin lebih gede... Ouugghh... Haaa!"
Dia menahan untuk kemudian menghentak dengan satu dorongan kuat.
"Marvin lebih pintarr... ouww..."
Dia menusuk dengan perlahan namun pasti sampai masuk semuanya.
"Marvin lebih panjaanngh... Hoh... Hohh... Aw!"
"Marvin lebih lamaaa.. aahh... Oh!"
"Marvin.. lebih... jantaaanhh... usfgghh! perkasaaa... Oh.. Oh... Oh... uuuhhh!"
"Marvin sangat nikamatth... ennakhh terussh sayang... teruszhh... oouugghh mmhh..."
"Lin, aku mau keluar, di dalam nggak apa-apa atau dicabut?"
"No, jangan dicabut, keluarin di dalam saja Sayang..."
"Enak mana sama punya suamimu?" katanya.
"Enak inni.. hh... Marvin!" kata saya jujur.
Pada saat itu saya juga akan mencapai orgasme yang kesekian kalinya.
Marvin tiba-tiba merenggut, menjambak rambut saya. Dihentak-hentakkan.
Oh, ternyata mampu mempercepat orgasme saya.
"Ooouughh.."
"Seerrr..."
Semprotannya kencang sekali. Dibarengi dengan semburan cairan
kewanitaan saya tanda pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Marvin.
Marvin masih terus mengocok pelan-pelan, setelah agak lama baru
dikeluarkan rudalnya, dan saking penuhnya isi kemaluan saya, terdengar
bunyi "Plop!" saat barangnya dicabut.
"Berapa sih panjangnya Marvin?"
"Cuma 23 cm."
Oh, pantas sampai sesak rasanya.
Saya tersadar, "Oh.. Marvin saya takut hamil!"
"Nungging aja, biar sperma saya balik lagi."
Terpaksa saya menungging. Melihat saya begini, dasar nafsu dan
tenaganya memang Ok, Marvin menghajar saya lagi dari belakang. Dasar
barangnya memang kuat, besar dan panjang tidak ada kesulitan sedikitpun
menyelusup dari arah bawah belakang. Yang ada cuma saya dengan
kenikmatan baru seolah tanpa akhir. Mimpi apa semalam, kok dapat
pengalaman yang aneh begini, tapi nikmat sekali. Sulit untuk disesali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar